Selasa, 05 November 2019

Jenis Routing (Materi BAB 2)


Kenali Jenis-Jenis Routing Berdasarkan Beberapa Aspek

Istilah “routing” dikenal dalam dunia dunia networking. Routing adalah suatu proses pengiriman data menggunakan alat router yaitu alat yang mampu mengirimkan paket data melalui internet atau jaringan menuju tujuannya.

Proses routing terjadi pada lapisan ketiga (yaitu lapisan jaringan, misalnya internet protocol) dari stack protocol (protokol tumpukan) tujuh lapis OSI.
Agar proses routing bisa berjalan, hal-hal yang harus diperhatikan pada router yaitu alamat tujuannya, berbagai router yang terlibat agar bisa mempelajari suatu network remote yang dibuat, dan router terbaik pada setiap jaringan.
Informasi mengenai router tersimpan di dalam routing table, yang kan menjelaskan baganimana cara menemukan network remote.
Daftar Isi

Jenis-Jenis Routing

Jenis-jenis dari routing dapat dibedakan berdasarkan sifat routing, routed and routing protocol dan class in routing protocol. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan di jelaskan mengenai pembagian jenis-jenis routing:

A. Berdasarkan Sifat Routing

Jenis-Jenis Routing Berdasarkan Sifat Routing

1. Routing Statis

Merupakan routing yang dilakukan oleh Anministrator Jaringan secara manual. Yaitu dengan cara input pengaturan routing table yang bersumbet dari router. Pengaturan itu akan menggambarkan jalur dari sebuah paket ke tujuan melalui interface mana yang akan dilewati.
Kelebihan:
  • Pada CPU router, tidak ada waktu pemrosesan (overhead).
  • Di antara router tidak ada digunakan bandwidth.
  • Jaminan keamanan, dikarenakan administrator jaringan akan memilih pengaturan akses routing pada jaringan tertentu
Kekurangan:
  • Administrator harus mampu memahami internetwork pada sebuah sistem dan router, agar bisa terhubung dan berfungsi dengan benar.
  • Ketika sebuah jaringan ditambahkan ke internetwork, maka administrator jaringan harus mampu menambahkan routing table pada semua router yang terhubung manual.
  • Pada jaringan komputer dengan skala besar routing statis tidak sesuai untuk digunakan.

2. Routing Default

Pengiriman paket secara manual menuju router hop selanjutnya merupakan fungsi dari routering ini. Yaitu dengan cara menambahkan router pada jaringan tujuan, yang control remotenya tidak tersedia di routering table. Dipakai pada jaringan yang mempunyai satu jalur keluar.
Kelebihan:
  • Konfigurasi simple, karena administrator hanya perlu memasukkan satu jenis perintah routing saja dan semua route akan terlaksakanan/dilewati.
Kekurangan:
  • Terdapat routing yang tidak dibutuhkan, sehingga memungkinkan semua router dapat menerima routing tersebut (yang tidak dibutuhkan). Dan penggunaan hardware meningkat serta kerja dari router menjadi lama.

3. Routing Dinamis

Proses routing dilakukan dengan membuat sebuah jalur komunikasi data otomatis, yang diatur sesuai konfigurasi. Apabila perubahan topolodi terjadi dalam jaringan, maka jalur routing baru akan dibuat oleh router secara otomatis. Routing dinamis terdapat pada lapisan jaringan layer komputer pada TCP/IP Protocol Suites. Routing dinamis juga berfungsi untuk menemukan jaringan dan melakukan update routing table di router.
Kelebihan:
  • Hanya mengenal alamat host tertentu (yang terhubung dengan router).
  • Jika terjadi penambahan jaringan (network), maka tidak perlu melakukan pengaturan ulang pada semua router .
  • Lebih mudah digunakan dibandingkan routing statis dan default.
Kekurangan:
  • Beban kerja router menjadi berat karena pembaharuan pada routing table pada waktu tertentu.
  • Kecepatan pengenalan maupun kelengkapan routing table membutuhkan waktu yang lama.

B. Berdasarkan Routed and Routing Protocol

Jenis-Jenis Routing Berdasarkan Routed and Routing Protocol

1. Routed Protocol

Merupakan protocol pada router yang digunakan untuk mengirim data pengguna dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Routed protocol ini membawa trafik data misalnya file transfer, e-mail dan trafik network lainnya. Contoh routed protocol : IPX, IP, DECnet dan AppleTalk.

2. Routing protocol

Merupakan protocol pada jaringan komputer, fungsinya secara dinamis mempelajari sebuah jaringan yang terhubung dan membrodcast, serta mempelajari network path yang ada. Jika routernya berbeda bisa saling bertukar update melalui routing protocol. Contohnya BGP, EIGRP, RIP dan OSPF.
  • Border Gateway Protocol (BGP)

Salah satu jenis protocol dalam komunikasi data. Kemampuannya untuk pertukaran rute, mengumpulkan rute, menentukan rute menuju lokasi tujuannya pada sebuah jaringan.Dilengkapi dengan algoritma. BGP merupakan kategori routing protocol EGP (Exterior Gateway Protocol).
  • Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP)

Menggunakan cost load balancing yang berbeda dan algoritma advanced distance vector. Algoritma tersebut merupakan gabungan dari link-state dan distance vector serta mengggunkan DUAL (Diffusing Update Algorithm) untuk menghitung rute terpendek.
  • Routing Information Protocol (RIP)

Merupakan protocol yang mengatur routing table menurut router yang terhubung. Dan router selanjutnya memberikan informasi ke router yang terhubung secara langsung.
  • Open Shortest Path First (OSPF)

Routing standar yang digunakan pada  beberapa vendor jaringan dan dijelaskan di RFC 2328. Dilengkapi dengan algoritma link-state atau disebut dengan algoritma Dijkstra / SPF.
Cara kerja ptotokol: jalur terpendek dari “pohon” akan dibangun lalu diisi dengan rute-rute terbaik oleh routing table yang dihasilkan dari “pohon’ itu. OSPF hanya berperan dalam mendukung routing IP. Update routing akan terjadi ketika ada perubahan topologi jaringan dan dilakukan secara floaded.

C. Class in Routing Protocol

Jenis-Jenis Routing Berdasarkan Class in Routing Protocol

1. Distance vector

Protocol yang termasuk pada kategori class ini akan menentukan rute terbaik ke sebuah jaringan berdasarkan jarak tempuh rutenya. Jalur/rute routing dengan jarak hop yang paling pendek ke jaringan yang dituju akan menjadi suatu pilihan jalur terbaik.

2. Link state

Istilah lainnya ialah protocol shortest-path-first. Routing tablen yang terdapat pada routernya memiliki fungsi yang unik, yaitu fungsi routing table-nya terpisah dan menjadi 3 table. Yang pertama berfungsi untuk mencatat perubahan dari jaringan-jaringan yang terhubung langsung. Yang kedua berfungsi untuk menentukan topologi pada seluruh internetwork. Dan yang ketiga berfungsi untuk routing table.

3. Hybrid

Protokol yang terakhir ini termasuk dalam kategori class yang menggunakan aspek-aspek routing protocol berjenis distance-vector dan link-state.

Route Table (Materi BAB 2)




Memahami Tabel Routing dalam Suatu Jaringan

Router berfungsi untuk mengirimkan paket data dari suatu network ke network lain sekaligus menentukan jalur terbaik (best path) untuk mencapai network tujuan. Untuk menjalankan fungsi tersebut router menggunakan tabel yang disebut dengan tabel routing (routing table). Tabel routing berisikan informasi keberadaan beberapa network, baik network yang terhubung langsung (directly connected network) maupun network yang tidak terhubung langsung (remote network).
Tabel routing juga berisi informasi bagaimana cara router tersebut mencapai suatu network. Tabel routing sangat penting karena digunakan router sebagai pedoman untuk mengirimkan setiap paket data yang diterima. Informasi dalam tabel routing berupa baris-baris network address yang disebut sebagai entry route atau biasa disebut route saja. Dalam setiap entry route juga telah ada informasi tentang interface mana yang dapat digunakan router tersebut untuk mengirimkan paket data.

Jika router menerima paket data, maka router akan memeriksa IP address tujuan (destination IP) dari paket tersebut. Router kemudian mencocokkannya dengan network address yang ada pada setiap entry di dalam tabel routing. Bila ada entry yang cocok maka router akan meneruskan paket tersebut ke interface yang digunakan untuk meneruskan paket tersebut. Interface yang digunakan untuk meneruskan paket tersebut disebut exit interface atau outgoing interface. Namun jika ternyata tidak ada entry yang cocok, maka router akan membuang paket data tersebut.
Selain melakukan routing, router juga melakukan forwading paket data. Sebuah perangkat dikatakan melakukan forwading jika perangkat tersebut meneruskan (forward) paket data yang tiba di satu interface untuk keluar di interface yang lain. Pada router paket data akan tiba pada sebuah interface (ingoing interface) untuk kemudian diolah dan akhirnya dikeluarkan pada interface yang lain (outgoing interface).

Entry dalam Tabel Routing

Ada 4 kategori entry dalam tabel routing, yaitu:
  • Directly Connected Network; Entry ini akan muncul pada saat interface router diaktifkan dan dikonfigurasi IP address. Beberapa jenis router status default dari interfacenya adalah disable (non aktif) sehingga perlu diaktifkan oleh administrator jaringan
  • Static Routes; Entry ini diisi manual oleh administrator jaringan, sehingga jika terjadi perubahan jaringan, maka entry ini juga harus dirubah secara manual pula
  • Dynamic Routes; Entry muncul karena hasil pertukaran informasi routing dari beberapa router. Pertukaran informasi routing akan menggunakan routing protocol. Entry ini tidak diisikan manual oleh administrator jaringan. Dalam hal ini administrator hanya perlu mengaktifkan routing protocol dan network yang akan dirouting
  • Default Routes; Entry ini digunakan untuk menentukan kemana sebuah paket akan dikirimkan jika alamat tujuan dari paket tersebut tidak terdapat pada tabel routing. Entry default routes bisa dikonfigurasikan secara manual (static) ataupun didapat dari pertukaran informasi dari routing protocol (dynamic).

Directly Connected Network dan Remote Network

Untuk dapat membaca dan memahami tabel routing dengan baik, harus dipahami terlebih dahulu tentang directly network (network yang terhubung langsung) dan remote network (network yang tidak terhubung langsung) dari sebuah router. Untuk menjangkau remote network, sebuah router memerlukan router lain sebagai next hop atau gateway.
Contoh perhatikan jaringan di bawah ini.
Tabel routing
Pada jaringan di atas, dapat diketahui directly connected network dan remote network pada masing router sebagai berikut:
  • Directly Connected Network:
    • Pada router R1:
      • Terhubung ke ether1: Network Id 192.168.10.0/24
      • Terhubung ke ether2: Network Id 192.168.40.0/30
    • Pada router R2:
      • Terhubung ke ether1: Network Id 192.168.40.0/30
      • Terhubung ke ether2: Network Id 192.168.20.0/24
      • Terhubung ke ether3: Network Id 192.168.30.0/24
  • Remote Network:
    • Pada router R1:
      • Network Id 192.168.20.0/24
      • Network Id 192.168.30.0/24
    • Pada router R2:
      • Network Id 192.168.10.0/24
Setelah mengetahui directly connected network dan remote network pada jaringan di atas, diperoleh tabel routing secara umum sebagai berikut:
Tabel routing
Tabel routing pada router R1
Tabel routing
Tabel routing pada router R2
Keterangan:
  • Network; Informasi yang ada pada kolom ini menunjukkan network tujuan (destination) yang dapat dijangkau oleh router tersebut
  • Interface; Informasi yang ada pada kolom ini merupakan interface keluar (exit interface) yang akan ditempuh oleh sebuah paket jika ditujukan untuk sebuah network tertentu.
  • Metric; Informasi yang ada pada kolom ini menunjukkan apakah entry tersebut merupakan directly connected network atau remote network.
Tabel routing di atas hanya memuat informasi network yang terhubung langsung, dan belum memuat data atau informasi terkait dengan remote network, sehingga perlu dilakukan konfigurasi static routing pada kedua router tersebut.

Analogi Routing (Materi BAB 2)

ROUTING DAN PROTOKOL ROUTING

Routing merupakan proses pencarian path atau alur guna memindahkan  informasi dari host sumber (source address) ke host tujuan  (destinations address) melalui koneksi internetwork.
 
Router menyaring (filter) lalu lintas data. Penyaringan dilakukan bukan dengan melihat alamat paket data, tetapi dengan menggunakan protokol tertentu. Router muncul untuk menangani perlunya membagi jaringan secara logikal bukan fisikal. Sebuah IP router bisa membagi jaringan menjadi beberapa subnet sehingga hanya lalu lintas yang ditujukan untuk IP address tertentu yang bisa mengalir dari satu segmen ke segmen lain. Kita akan menggunakan router ketika akan menghubungkan jaringan komputer ke jaringan lain, baik jaringan pribadi (LAN/WAN) atau jaringan publik (Internet).
Diperlukan adanya router untuk melakukan routing di dalam jaringan, dimana router membutuhkan informasi-informasi sebagai berikut:
  • Alamat Tujuan/Destination Address – Tujuan atau alamat item yang akan dirouting
  • Mengenal sumber informasi – Dari mana sumber (router lain) yang dapat dipelajari oleh router dan memberikan jalur sampai ke tujuan.
  • Menemukan rute – Rute atau jalur mana yang mungkin diambil sampai ke tujuan.
  • Pemilihan rute – Rute yang terbaik yang diambil untuk sampai ke tujuan.
  • Menjaga informasi routing – Suatu cara untuk menjaga jalur sampai ke tujuan yang sudah diketahui dan paling sering dilalui.
Analogi :
Misalkan kita berada pada persimpangan jalan, mungkin kita akan merasa bingung jika tidak ada petunjuk jalan, di setiap persimpangan jalan (router) seharusnya ada petunjuk jalan supaya orang tidak bingung dan tersesat. Untuk jalan yang rumit dan berputar-putar tidaklah cukup jika menggunakan static routing. Tentunya kita akan merasa bingung jika disetiap persimpangan kita harus bertanya pada orang apalagi kepada orang yang tidak tahu. Oleh karena itu disini diperlukan dinamic routing, analoginya seperti ada polisi yang membawa HT dan memberikan jalur mana saja yang bisa dilewati. Polisi akan selalu koordinasi beberapa kali sehari, agar jika ada jalan yang macet, ada tabrakan, ada pohon rubuh, polisi akan segera meng-update petunjuk jalan yang lain.
Biasanya polisi yang bertingkat rendah akan memakai HT yang kita sebut sebagai RIP, yang memiliki jarak paling jauh 30 hop (simpangan). Polisi yang berada pada tempat yang ramai bisa menggunakan isis atau ospf, biasanya sudah membawa HP maupun PDA jadi akan lebih pintar dan cepat untuk melakukan update. Polisi tingkat dunia biasanya memiliki kantor pada persimpangan dan sudah mempunyai peralatan pengacak jaringan seluruh dunia, ini disebut BGP.
Ada dua bagian routing paket IP :
  1. Bagaimana meneruskan paket dari interface input ke interface output pada suatu router (“IP forwarding”) ?
  • Paket biasanya diteruskan (forwarding) kesejumlah router sebelum mencapai host tujuan
  • IP forwarding dilaksanakan atas dasar hop-by-hop yaitu tidak ada yang tau rute yang lengkap. Tujuan forwarding adalah membawa paket IP lebih dekat ke tujuan
2.Bagaimana mencari dan men-setup rute (“Routing algorithm”) ?
 
Protokol routing membentuk suatu tabel routing yang digunakan untuk menyeleksi jalur yang akan digunakan. Didalam tabel routing terdapat suatu alamat tujuan paket data dan hop yaitu suatu router yang akan dituju setelah router tersebut.
Konsep berikut sangatlah penting untuk memahami routing pada jaringan IP:
–        Autonomous system
–        Interior vs  Exterior routing
–        Distance vector vs. link state routing algorithms
Autonomous System (AS)
Suatu autonomous system adalah bagian logical dari jaringan IP yang besar, biasanya dimiliki oleh sebuah organisasi jaringan dan diadministrasikan oleh sebuah management resmi. Setiap router dapat berkomunikasi dengan router yang lain dalam satu autonomous system.
Contoh dari autonomous region adalah:
–        Internet Service Provider Regional
–        Jaringan kampus ITB
Di dalam autonomous system, routing dilaksanakan secara:
  1. Interior Routing  yaitu dalam autonomous system
  2. Exterior Routing  yaitu antara autonomous system
Perbedaan Interior Routing dan Exterior  Routing
Interior Routing
Exterior Routing
Routing di dalam suatu AS
Routing antara AS
Protokol untuk Intradomain routing juga disebut Interior Gateway Protocol / IGP
Protokol yang populer
  • RIP (sederhana, lama)
  • OSPF (lebih baik)
Protokol untuk interdomain routing disebut Exterior Gateway Protocol/ EGP
Protokol routing:
  • EGP
  • BGP (lebih baru)
Mengabaikan Internet di luar ASMengasumsikan Internet terdiri dari sekumpulan interkoneksi AS

Algoritma-Algoritma Routing (Pada Internet)
 
Perbedaan mendasar antara distance vector dan link state adalah:
  1. Distance Vector hanya memiliki informasi routing dari router tetangganya, sedangkan Link State memiliki informasi routing dari setiap node yang ada.
  2. Untuk mendapatkan lintasan/rute yang terbaik, Distance Vector menggunakan Algoritma Bellman-Ford, sedangkan Link State menggunakan Algoritma Djikstra.
Distance Vector
Pembentukan tabel routing pada Distance Vector dilakukan dengan cara tiap-tiap router atau PC router akan saling bertukar informasi routing dengan router atau PC router yang terhubung langsung. Proses pertukaran informasi routing dilakukan secara periodik, misal tiap 30 detik.
Proses pembentukan tabel pada protokol routing yang menggunakan konsep distance vector adalah sebagai berikut :
  1. Mula-mula tabel routing yang dimiliki oleh masing-masing router atau PC router akan berisi informasi alamat jaringan yang terhubung langsung dengan router atau PC router tersebut.
  2. Secara periodik masing-masing router atau PC router akan saling bertukar informasi sehingga isi tabel routing dari semua router terisi lengkap (converged).

Link State
Protokol routing yang menggunakan konsep link state akan membentuk tabel routing menurut pandangan atau perhitungan router atau PC router masing-masing, tidak bergantung pada pendapat router atau PC router tetangga.
Tabel routing yang dibentuk dengan menggunakan konsep link state dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
  1. Pada awalnya setiap router atau PC router akan saling mengirimkan dan melewatkan paket link state.
  2. Paket link state yang diterima dari router atau PC router lain dikumpulkan dalam sebuah database topologi.
  3. Berdasarkan informasi yang terkumpul di dalam database, router atau PC router melakukan perhitungan dengan mengggunakan algoritma short path first (SPF).
  4. Algoritma SPF menghasilkan short path first tree.
  5. Akhirnya SPF Tree membentuk daftar isi tabel routing.
Kelima proses di atas dilakukan oleh masing-masing router atau PC router. Jika terjadi perubahan topologi jaringan, pemberitahuannya akan dikirimkan segera ke tiap-tiap router atau PC router sehingga proses update informasi routing dapat segera dilakukan.
Static Routing
Router meneruskan paket dari sebuah network ke network yang lainnya berdasarkan rute (catatan: seperti rute pada bis kota) yang ditentukan oleh administrator. Rute pada static routing tidak berubah, kecuali jika diubah secara manual oleh administrator.
kekurangan dan kelebihan static routing:
- dengan menggunakan next hop
( + ) dapat mencegah trjadinya eror dalam meneruskan paket ke router tujuan apabila router yang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung dengan banyak router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next hop, yaitu ip address router tujuan
( – ) static routing yang menggunakan next hop akan mengalami multiple lookup atau lookup yg berulang. lookup yg pertama yang akan dilakukan adalah mencari network tujuan,setelah itu akan kembali melakukan proses lookup untuk mencari interface mana yang digunakan untuk menjangkau next hopnya.
- dengan menggunakan exit interface
( + ) proses lookup hanya akan terjadi satu kali saja ( single lookup ) karena router akan langsung meneruskan paket ke network tujuan melalui interface yang sesuai pada routing table
( – ) kemungkinan akan terjadi eror keteka meneruskan paket. jika link router terhubung dengan banyak router, maka router tidak bisa memutuskan router mana tujuanya karena tidak adanya next hop pada tabel routing. karena itulah, akan terjadi eror.
routing static dengan menggunakan next hop cocok digunakan untuk jaringan multi-access network atau point to multipoint sedangkan untuk jaringan point to point, cocok dengan menggunakan exit interface dalam mengkonfigurasi static route.
recursive route lookup adalah proses yang terjadi pada routing tabel untuk menentukan exit interface mana yang akan digunakan ketika akan meneruskan paket ke tujuannya.
Dynamic Routing
Dynamic router mempelajari sendiri Rute yang terbaik yang akan ditempuhnya untuk meneruskan paket dari sebuah network ke network lainnya. Administrator tidak menentukan rute yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut. Administrator hanya menentukan bagaimana cara router mempelajari paket, dan kemudian router mempelajarinya sendiri. Rute pada dynamic routing berubah, sesuai dengan pelajaran yang didapatkan oleh router.
Apabila jaringan memiliki lebih dari satu kemungkinan rute untuk tujuan yang sama maka perlu digunakan dynamic routing. Sebuah  dynamic routing dibangun berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh protokol routing. Protokol ini didesain untuk mendistribusikan informasi yang secara dinamis mengikuti perubahan kondisi jaringan. Protokol routing mengatasi situasi routing yang kompleks secara cepat dan akurat. Protokol routng didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute  backup  bila rute utama tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.
Pengisian dan pemeliharaan tabel routing tidak dilakukan secara manual oleh admin. Router saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat tujuan dan menerima tabel routing. Pemeliharaan jalur dilakukan berdasarkan pada jarak terpendek antara device pengirim dan device tujuan.
1. Routing Information Protocol (RIP)
Routing protokol yang menggunakan algoritma distance vector, yaitu algortima Bellman-Ford. Pertama kali dikenalkan pada tahun 1969 dan merupakan algoritma routing yang pertama pada ARPANET. Versi awal dari routing protokol ini dibuat oleh Xerox Parc’s PARC Universal Packet Internetworking dengan nama Gateway Internet Protocol. Kemudian diganti nama menjadi Router Information Protocol (RIP) yang merupakan bagian Xerox network Services.
RIP yang merupakan routing protokol dengan algoritma distance vector, yang menghitung jumlah hop (count hop) sebagai routing metric. Jumlah maksimum dari hop yang diperbolehkan adalah 15 hop. Tiap RIP router saling tukar informasi routing tiap 30 detik, melalui UDP port 520. Untuk menghindari loop routing, digunakan teknik split horizon with poison reverse. RIP merupakan routing protocol yang paling mudah untuk di konfigurasi.
RIP memiliki 3 versi yaitu :
  1. RIPv1
  2. RIPv2
  3. RIPng
Kelebihan
  • menggunakan metode Triggered Update
  • RIP memiliki timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan informasi routing.
  • Jika terjadi perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router tetap harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut (triggered update).
  • Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan
Kekurangan
  • Jumlah host Terbatas
  • RIP tidak memiliki informasi tentang subnet setiap route.
  • RIP tidak mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM).
  • Ketika pertama kali dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya berada
2. Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)
IGRP (Interior Gateway Routing Protocol) adalah juga protocol distance vector yang diciptakan oleh perusahaan Cisco untuk mengatasi kekurangan RIP. Jumlah hop maksimum menjadi 255 dan sebagai metric, IGRP menggunakan bandwidth, MTU, delay dan load. IGRP adalah protocol routing yang menggunakan Autonomous System (AS) yang dapat menentukan routing berdasarkan system, interior atau exterior. Administrative distance untuk IGRP adalah 100.
Kelebihan
  • support = 255 hop count
Kekurangan
  • Jumlah Host terbatas
3.Open Shortest Path First (OSPF)
OSPF (Open Shortest Path First ) merupakan sebuah routing protokol berjenis IGP (interior gateway routing protocol) yang hanya dapat bekerja dalam jaringan internal suatu ogranisasi atau perusahaan. Jaringan internal maksudnya adalah jaringan di mana Anda masih memiliki hak untuk menggunakan, mengatur, dan memodifikasinya. Atau dengan kata lain, Anda masih memiliki hak administrasi terhadap jaringan tersebut. Jika Anda sudah tidak memiliki hak untuk menggunakan dan mengaturnya, maka jaringan tersebut dapat dikategorikan sebagai jaringan eksternal. Selain itu, OSPF juga merupakan routing protokol yang berstandar terbuka. Maksudnya adalah routing protokol ini bukan ciptaan dari vendor manapun. Dengan demikian, siapapun dapat menggunakannya, perangkat manapun dapat kompatibel dengannya, dan di manapun routing protokol ini dapat diimplementasikan. OSPF merupakan routing protokol yang menggunakan konsep hirarki routing, artinya OSPF membagi-bagi jaringan menjadi beberapa tingkatan. Tingkatan-tingkatan ini diwujudkan dengan menggunakan sistem pengelompokan area.
OSPF memiliki 3 table di dalam router :
  1. Routing table
Routing table biasa juga disebut sebagai Forwarding database. Database ini berisi the lowest cost untuk mencapai router-router/network-network lainnya. Setiap router mempunyai Routing table yang berbeda-beda.
2. Adjecency database
Database ini berisi semua router tetangganya. Setiap router mempunyai Adjecency database yang berbeda-beda.
3. Topological database
Database ini berisi seluruh informasi tentang router yang berada dalam satu networknya/areanya.
Kelebihan
  • tidak menghasilkan routing loop
  • mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus
  • dapat menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan
  • membagi jaringan yang besar mejadi beberapa area.
  • waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih cepat
Kekurangan
  • Membutuhkan basis data yang besar
  • Lebih rumit
4. Enchanced Interior Gatway Routing Protocil (EIGRP)
EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol) adalah routing protocol yang hanya di adopsi oleh router cisco atau sering disebut sebagai proprietary protocol pada cisco. Dimana EIGRP ini hanya bisa digunakan sesama router cisco saja. Bgmn bila router cisco digunakan dengan router lain spt Juniper, Hwawei, dll menggunakan EIGRP??? Seperti saya bilang diatas, EIGRP hanya bisa digunakan sesama router cisco saja. EIGRP ini sangat cocok digunakan utk midsize dan large company. Karena banyak sekali fasilitas2 yang diberikan pada protocol ini.
Kelebihan
  • melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari loop.
  • memerlukan lebih sedikit memori dan proses
  • memerlukan fitur loopavoidance
Kekurangan
  • Hanya untuk Router Cisco
5. Border Gateway Protocol (BGP)
Border Gateway Protocol (BGP) adalah sebuah sistem antar autonomous routing protocol. Sistem autonomous adalah sebuah jaringan atau kelompok jaringan di bawah administrasi umum dan dengan kebijakan routing umum. BGP digunakan untuk pertukaran informasi routing untuk Internet dan merupakan protokol yang digunakan antar penyedia layanan Internet (ISP). Pelanggan jaringan, seperti perguruan tinggi dan perusahaan, biasanya menggunakan sebuah Interior Gateway Protocol (IGP) seperti RIP atau OSPF untuk pertukaran informasi routing dalam jaringan mereka. Pelanggan menyambung ke ISP, dan ISP menggunakan BGP untuk bertukar pelanggan dan rute ISP . Ketika BGP digunakan antar Autonom System (AS), protokol ini disebut sebagai External BGP (EBGP). Jika penyedia layanan menggunakan BGP untuk bertukar rute dalam suatu AS, maka protokol disebut sebagai Interior BGP (IBGP)
Kelebihan
  • Sangat sederhana dalam instalasi
Kekurangan
  • Sangat terbatas dalam mempergunakan topologi.

Prinsip Kerja Routing (Materi BAB 2)


Penjelasan Dasar Proses IP Routing


Jadi, kali ini kita tidak akan langsung belajar konfigurasi routing, melainkan hanya mempelajari ip routing saja. IP routing adalah proses forwarding IP packet yang dilakukan oleh router.
Berikut 3 hal yang akan kamu pahami di setelah materi ip routing kali ini:
  • Memahami topologi sederhana beda network
  • Mempelajari cara kerja router
  • Menganalisa perpindahan packet ke network yang berbeda

A. Terminologi Routing

Ada beberapa istilah yang perlu kita sepakati pemakaiannya di materi kali ini. Tadi saya katakan:
  • IP routing (aktifitas forwarding ip packet)
  • … yang dilakukan oleh router (perangkat yang merouting), dan
  • IP packet (anggaplah seperti surat di analogi kantor pos).
Router yang dimaksud adalah kata kerja. Perangkat apapun yang bisa bertugas merouting, bisa firewall, bisa komputer, bisa switch. Tapi tetap kita akan belajar dengan router yang selama ini kita kenal.
Jadi secara ringkas, ip adalah routed protocol, sedangkan RIP, EIGRP, OSPF, dsb adalah routing protocol. Objeknya adalah ip packet, pelakunya adalah router.
Selain itu, ada 2 teknik dalam merouting, yaitu statis dan dinamis. Jika statis dilakukan manual, dinamis routing berarti router saling bertukar informasi routing mereka.

B. Pemahaman Dasar Routing

Saya ingatkan lagi materi dasar jaringan internetwork dimana router berperan merouting packet dari sebuah network yang berbeda ke tujuan yang berbeda network pula.
Note: Teknik konfigurasi routing dibawah tidak perlu kamu pahami saat ini juga. Saya hanya menjelaskan gambaran umum cara kerja router saja dan gambaran networknya.
Ini 3 hal yang harus diketahui oleh router dalam tugasnya merouting packet:
  • Melihat network dari tujuan sebuah paket ip
  • Rute menuju remote network dan memilih rute mana yang terbaik
  • Memaintain tabel routing

1. Router Hanya Melihat Network Address

Router engga peduli mengenai host, alamat ip address host tersebut dan dimana lokasinya. Router cuma melihat alamat network sebuah paket, dan rute mana yang terbaik menuju network tersebut.
Perhatikan topologi berikut ini.

cara kerja router
Gambar 1: Topologi A – Local Network Routing
Pertanyaannya, router menerima packet dengan alamat tujuan 192.168.100.10, kemana packet akan diforward?
Saya yakin dengan mudah kamu bisa menjawab, packet akan diforward ke interface Ethernet0/2 (karena di topologi seperti itu), ya kan?
Ngomong-ngomong, router engga tau bentuk topologi yang kita buat diatas seperti apa. Dia hanya melihat tabel routingnya. Cara melihatnya di router Cisco IOS dengan perintah #show ip route:
Router01#show ip route
Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
[output cut]
Gateway of last resort is not set
         10.0.0.0/8 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        10.0.0.0/8 is directly connected, Ethernet0/0
L        10.0.0.1/32 is directly connected, Ethernet0/0
      172.16.0.0/16 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        172.16.0.0/16 is directly connected, Ethernet0/1
L        172.16.0.1/32 is directly connected, Ethernet0/1
      192.168.100.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        192.168.100.0/24 is directly connected, Ethernet0/2
L        192.168.100.1/32 is directly connected, Ethernet0/2
Router#
(Akan lebih mengerti kalau kamu ikuti materi ini sembari praktek, gunakan packet tracer saja)
Yes, packet dengan tujuan 192.168.100.10 akan diforward melalui interface Ethernet0/2. Perhatikan disitu ada flag C yaitu directly connected, router bisa langsung memforward packet tersebut.
Transmisi packet akan berhasil dengan syarat client-client diatas sudah mengkonfigurasi gateway. Silakan baca fungsi gateway kalau belum paham.

Melihat tabel routing

Sekarang pertanyaannya, gimana kalau ada packet dengan alamat tujuan 10.100.10.19? Ke interface mana packet tersebut akan diteruskan?
Ingat, router tidak peduli dengan alamat 10.100.10.19, dia hanya peduli di network mana alamat tersebut, kalau ada di routing tablenya, maka bisa dikirimkan.
Kalau kita hitung, berarti kan 10.100.10.19 berada di network 10.0.0.0/8, ya kan? atau belum paham? Kalau belum silakan balik ke materi IP address dan silakan belajar subnetting terlebih dahulu.
Nah di topologi kan tidak ada host dengan alamat 10.100.10.19. Tapi fokus kita disini adalah routernya, router tidak peduli dengan host itu ada atau tidak. Network dari packet tersebut ada di tabel routing. Itu intinya.
Proses selanjutnya seperti apa.. akan kita bahas dibawah.

IOS router versi 15 dan /32 di tabel routing

Satu lagi, di IOS versi 15, router menambahkan alamat interfacenya sendiri di tabel routing seperti contoh diatas: 10.0.0.1/32 directly connected ke interface Ethernet0/0.
Tujuannya agar proses routing lebih efektif karena dia tinggal menforward packet tersebut ke interfacenya sendiri. Kita juga lebih gampang mengetahui kalau router punya ip interface di network tersebut.

2. Memilih Rute Terbaik

Satu lagi contoh, berdasarkan tabel routing dibawah ini. Jika ada packet dengan alamat tujuan 192.168.2.108, ke interface mana packet tersebut akan diforward?
Router02#show ip route
Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
[output cut]
  192.168.1.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        192.168.1.0/30 is directly connected, Serial1/0
L        192.168.1.2/32 is directly connected, Serial1/0
      192.168.2.0/24 is variably subnetted, 10 subnets, 2 masks
C        192.168.2.0/27 is directly connected, Loopback0
L        192.168.2.1/32 is directly connected, Loopback0
C        192.168.2.32/27 is directly connected, Loopback1
L        192.168.2.33/32 is directly connected, Loopback1
C        192.168.2.64/27 is directly connected, Loopback2
L        192.168.2.65/32 is directly connected, Loopback2
C        192.168.2.96/27 is directly connected, Loopback3
L        192.168.2.97/32 is directly connected, Loopback3
C        192.168.2.128/27 is directly connected, Loopback4
L        192.168.2.129/32 is directly connected, Loopback4
[output cut]
Perhatikan, tabel routing cisco IOS menampilkan network classfull dan dibawahnya adalah network-network yang sudah disubnet, jadi lebih enak ngelihatnya, ya kan?
Lalu, ke interface mana packet tadi akan diforward?
Serius.. kalau kamu masih bingung menjawabnya, silakan pelajari materi subnetting yang sudah kita bahas sebelumnya.

Rute menuju remote network

Contoh-contoh diatas semuanya masih local network, alias terhubung langsung ke router. Jika seperti itu, kita bahkan tidak perlu mengkonfigurasi routing apapun karena router sudah tau rute menuju network tersebut.
Sekarang kita kembangkan topologinya seperti berikut ini.

remote network routing
Gambar 2: Topologi B – Remote Network Routing
Silakan diperhatikan, network 192.168.2.96/27 dan lainnya adalah remote network bagi Router01, karena tidak terhubung langsung dengannya. Begitu juga network 172.16.0.0/16 bagi Router02 dan seterusnya.
Sekarang pertanyaannya, jika router01 menerima packet dari PC02 dengan alamat tujuan 192.168.2.77, kemana packet akan diteruskan?
Ingat, router diatas itu tidak paham seperti apa wujud topologi yang kita buat. Sehingga jawabannya, tentu: tergantung tabel routing.
Nah karena tidak terhubung langsung, network address dari 192.168.2.77 belum ada di tabel routing Rourter01 (tabelnya routingnya masih sama dengan output show ip route diatas yang pertama kali).
Sehingga harus kita konfigurasi, dari topologi kita paham kalau tujuan paket tersebut terhubung ke router02.
Cara meroutingnya ada 2, dengan static routing, atau dynamic routing. Saya contohkan dengan static routing, ingat saja 2 hal ini:
  1. Alamat network yang ingin dirouting (yang akan ditambahkan ke tabel routing).
  2. Rute menuju alamat network tersebut.
Ingat, Router02 pun harus tau rute menuju ke PC02 (si pengirim paket) agar paket tersebut bisa reply.
Berikut konfigurasi di Router01:
R1(config)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.128 192.168.1.2
R1(config)#do show ip route
[output cut]
  10.0.0.0/8 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        10.0.0.0/8 is directly connected, Ethernet0/0
L        10.0.0.1/32 is directly connected, Ethernet0/0
      172.16.0.0/16 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        172.16.0.0/16 is directly connected, Ethernet0/1
L        172.16.0.1/32 is directly connected, Ethernet0/1
      192.168.1.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        192.168.1.0/30 is directly connected, Serial1/0
L        192.168.1.1/32 is directly connected, Serial1/0
      192.168.2.0/25 is subnetted, 1 subnets
S        192.168.2.0 [1/0] via 192.168.1.2
      192.168.100.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        192.168.100.0/24 is directly connected, Ethernet0/2
L        192.168.100.1/32 is directly connected, Ethernet0/2
R1(config)#
Lho, kok dikonfigurasi dengan subnet mask 255.255.255.128 (/25)? Saya summari agar mencakup semua alamat loopback0 sampai loopback4 router02.
Sekarang konfigurasi di Router02:
R2(config)#ip route 172.16.0.0 255.255.0.0 192.168.1.1
R2(config)#do show ip route
Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
[output cut]
S     172.16.0.0/16 [1/0] via 192.168.1.1
      192.168.1.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        192.168.1.0/30 is directly connected, Serial1/0
L        192.168.1.2/32 is directly connected, Serial1/0
      192.168.2.0/24 is variably subnetted, 10 subnets, 2 masks
C        192.168.2.0/27 is directly connected, Loopback0
L        192.168.2.1/32 is directly connected, Loopback0
C        192.168.2.32/27 is directly connected, Loopback1
L        192.168.2.33/32 is directly connected, Loopback1
C        192.168.2.64/27 is directly connected, Loopback2
L        192.168.2.65/32 is directly connected, Loopback2
C        192.168.2.96/27 is directly connected, Loopback3
L        192.168.2.97/32 is directly connected, Loopback3
C        192.168.2.128/27 is directly connected, Loopback4
L        192.168.2.129/32 is directly connected, Loopback4
      192.168.100.0/24 is variably subnetted, 4 subnets, 2 masks
C        192.168.100.0/25 is directly connected, Loopback88
L        192.168.100.1/32 is directly connected, Loopback88
C        192.168.100.128/25 is directly connected, Loopback99
L        192.168.100.129/32 is directly connected, Loopback99
R2(config)#
Selesai, sekarang PC02 sudah bisa berkomunikasi ke network 192.168.2.0/25 yang terhubung ke Router02. Silakan coba sendiri di lab masing-masing.
Ini rangkumannya:
  • Router bekerja berdasarkan tabel routing. 
  • Entri di tabel routing tersebut bisa ditambahkan (dikonfigurasi) baik secara statis maupun dinamis.
  • Isi tabel routing: alamat networknya, dan rute menuju alamat network tersebut.
Bahasan konfigurasi ini akan kita bahas lebih lanjut di bab berikutnya. Sekarang cukup pahami konsep dasarnya.

Route path selection

Ada kondisi dimana terdapat beberapa network tapi pathnya berbeda. Seperti berikut ini.

route selection
Gambar 3: Route Selection
PC02 ingin mengirim packet ke alamat 192.168.100.10. Sesampainya di Router01, ke interface mana kah paket tersebut akan diforward?
Ini akan kita bahas nanti, namun jika kamu penasaran, silakan dipraktekkan dengan skenario sebagai berikut:
  1. Di router01: konfigurasi routing ke 192.168.100.0/24, arahkan ke interface serial1/0 atau 192.168.1.2.
  2. Hapus konfigurasi nomer 1, di router01: konfigurasi routing ke 192.168.100.0/25 dan 192.168.100.128/25, arahkan ke interface serial1/0 atau 192.168.2.
  3. Test ping dan tracreoute dari PC02 ke alamat 192.168.100.10 setelah skenario 1 dan skenario 2.
*note: interface lo88 router02 adalah: 192.168.100.10/25.
Nah, itu masih di Router01 (kamu coba sendiri), sekarang kita lihat sedikit di router02. Bagaimana jika router02 menerima packet dengan alamat tujuan 192.168.100.10?
Ke interface mana packet tersebut akan diforward? (misal yang mengirim packet adalah interface loopback 0).
Berikut tabel routingnya:
R2#show ip route
Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
[output cut]
S     10.0.0.0/8 [1/0] via 192.168.1.1
S     172.16.0.0/16 [1/0] via 192.168.1.1
      192.168.1.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C        192.168.1.0/30 is directly connected, Serial1/0
L        192.168.1.2/32 is directly connected, Serial1/0
      192.168.2.0/24 is variably subnetted, 10 subnets, 2 masks
C        192.168.2.0/27 is directly connected, Loopback0
L        192.168.2.1/32 is directly connected, Loopback0
C        192.168.2.32/27 is directly connected, Loopback1
L        192.168.2.33/32 is directly connected, Loopback1
C        192.168.2.64/27 is directly connected, Loopback2
L        192.168.2.65/32 is directly connected, Loopback2
C        192.168.2.96/27 is directly connected, Loopback3
L        192.168.2.97/32 is directly connected, Loopback3
C        192.168.2.128/27 is directly connected, Loopback4
L        192.168.2.129/32 is directly connected, Loopback4
      192.168.100.0/24 is variably subnetted, 5 subnets, 3 masks
S        192.168.100.0/24 [1/0] via 192.168.1.1
C        192.168.100.0/25 is directly connected, Loopback88
L        192.168.100.10/32 is directly connected, Loopback88
C        192.168.100.128/25 is directly connected, Loopback99
L        192.168.100.138/32 is directly connected, Loopback99
R2#
Setelah dicoba, packet diteruskan ke interface loopback88, bukan ke interface s1/0 atau via 192.168.1.1 (router01) untuk menuju PC03.
R2#traceroute 192.168.100.10 source lo 0
Type escape sequence to abort.
Tracing the route to 192.168.100.10
VRF info: (vrf in name/id, vrf out name/id)
  1 192.168.100.10 4 msec 4 msec *
R2#
Kenapa packet dikirimkan ke interface loopback88?
Dalam membangun routing tabel, 3 faktor berikut yang menentukan:
  • Administrative distance: tingkat kepercayaan rute, semakin kecil nilainya, maka rute tersebut semakin diutamakan.
  • Metric: oleh routing protocol sendiri, punya metric masing-masing.
  • Prefix length:  prefix length terpanjang akan menjadi prioritas.
Dah, ini akan kita bahas di lain kesempatan. Sebagai catatan, berikut adalah nilai default administrative distance routing protocol di cisco.

Routing ProtocolAD Value
Connected0
Static1
eBGP20
EIGRP (internal)90
IGRP100
OSPF110
IS-IS115
RIP120
EIGRP (external)170
iBGP200
EIGRP summary route5

3. Memaintain Routing Table

Satu lagi sebelum kita bahas tentang proses ip routing. Tadi saya katakan, ada 2 teknik membangun atau mengkonfigurasi routing:
  1. Static routing: admin sendiri yang mengkonfigurasi secara manual alamat network, rute menuju alamat network tersebut, dan metricnya.
  2. Dynamic routing: router akan saling bertukar informasi routingnya ke router tetangganya.
Juga akan kita bahas nanti. Intinya ketika belajar, mulai dari static routing terlebih dahulu.

Saya ingatkan lagi, jika kamu belum pernah belajar konfigurasi routing sama sekali, tidak perlu khawatir, intinya kamu cukup pahami beberapa point besarnya:
  • Router tidak tau bentuk topologi, router cuma melihat tabel routingnya. 
  • Router tidak peduli alamat ip dan lokasi host ada dimana, dia hanya perlu tahu alamat networknya (maka kamu perlu paham subnetting).
  • Kalau network tersebut terhubung langsung dengannya, tidak perlu konfigurasi apa-apa, router sudah tau rute menuju network tersebut.
  • Sebaliknya, kalau tujuan paketnya ada di remote network, maka tabel routing perlu dibuat, dengan static atau dynamic routing.

C. Proses IP Routing

Semoga dari penjelasan singkat diatas kamu sudah punya bayang-bayang dengan routing. Topologi yang akan kita gunakan untuk mempelajari proses ip routing kali ini jauh lebih sederhana.

proses ip routing
Gambar 4: Belajar IP Routing
Kita akan mencoba mengirim paket ICMP dari Host-A (192.168.1.2) ke Host-B (192.168.2.2) dan memperhatikan proses routing packet hingga reply kembali ke Host-A.
Alamat MAC masing-masing NIC perangkat sengaja dicantumkan karena nanti kita akan mengamati proses ARP juga. Kemudian, di router tidak ada konfigurasi routing apapun karena kedua network terhubung langsung.
Let’s begin.

1. Membentuk packet ICMP

Host-A akan membuat paket ICMP echo request yang nantinya akan ditempatkan di IP packet, berisi 192.168.1.2 sebagai source address dan 192.168.2.2 sebagai destination address.

packet icmp
Gambar 4: Packet ICMP
Terlihat di gambar bahwa IP packetnya berisi protocol 1 (icmp) beserta alamat sumber dan tujuannya. Di materi ip address sudah pernah kita bahas tentang ini.

2. Apakah tujuan paket berada di local network atau remote network?

Masih berada di layer network dengan IP protocol, Host-A akan mencari tahu, apakah alamat 192.168.1.2 berada satu network dengannya, atau berada di network berbeda?
Maka dia akan membandingkan dengan alamat ip nya sendiri dan subnet masknya.

membandingkan network tujuan paket
Gambar 5: Membandingkan network tujuan paket
Host-A dengan ip address 192.168.1.1 di subnet mask 255.255.255.0, berarti alamat ip yang satu network dengannya adalah 192.168.1.1 sampai 192.168.1.254.
Maka diketahui bahwa 192.168.1.2 berada di remote network.

3. Tujuan paket berada di remote network, kirim ke gateway!

Host-A sudah mendaftarkan alamat 192.168.1.1 (interface e0/0 router). Saya tidak ingin membuat kamu pusing, tapi coba perhatikan output dari route -ndari Host-A tersebut.
Karena komputer juga memiliki kapabilitas untuk merouting (bisa static, isa dynamic). Sehingga gateway dipertimbangkan sebagai rute (default route).
Sederhananya, jika tidak ada rute menuju paket 192.168.1.2 tadi, maka packet akan dibuang. Tidak jadi dikirimkan. Dalam hal ini paket akan dikirim ke gateway.

4. Membungkus packet kedalam frame (framing, encapsulating)

Agar packet bisa dikirimkan ke alamat gateway (192.168.1.1), maka Host-A harus mengetahui alamat hardware (MAC: media access control) dari interface e0/0 router.
Masih ingat kan materi enkapsulasi deenkapsulasi TCP/IP?
Perangkat hanya bisa berkomunikasi dan saling bertransmisi data melalui hardware, layer 2 dan layer 1. Makanya packet tersebut perlu dibungkus dulu menjadi frame.
Sekali lagi dan perlu diingat, packet icmp yang tadi udah berisi ip address sumber dan tujuan, akan dibungkus ke dalam frame, dimana frame juga harus berisi alamat sumber dan tujuan, tapi alamat hardware.
  • IP packet, isinya ICMP, source address: 192.168.1.2 Host-A, destination address: 192.168.2.2 Host-B.
  • Dibungkus ke dalam frame, isinya IP packet yang data payloadnya adalah ICMP. Source address frame: 0C:0C:99:49:CA:00 eth0 Host-A, destination address frame: aabb.cc00.0100 eth0/0 Router.

framing
Gambar 6: Frame dari Host-A ke e0/0 Router
Ada perbedaan antara frame dan packet. Alamat packet dari awal biasanya tidak berubah (kecuali ada translasi). Sedangkan alamat frame, selalu alamat perangkat di transit, tidak pernah lompat.
Misal rutenya Bogor (sumber) -> Cianjur -> Padalarang -> Bandung (tujuan).
Maka isi alamat sumber dan tujuan packet selalu Bogor dan Bandung. Sedangkan alamat framenya bisa Bogor -> Cianjur, Cianjur -> Padalarang, dan seterusnya.

5. Memanfaatkan address resolution protocol (ARP)

Balik lagi ke proses tadi, packet sudah dibungkus jadi frame dan ingin dikirimkan ke interface e0/0 router. Bagaimana cara mengetahui alamat hardware interface e0/0 router tersebut?
Maka digunakanlah ARP atau address resolution protocol, fungsinya untuk menerjemahkan alamat IP menjadi alamat hardware.
Alamat IP nya kan sudah diketahui, yaitu alamat gateway (e0/0 router). Maka host A tinggal menyebar pesan ARP melalui interface eth0 nya berisi “siapa yang tahu alamat hardware dari 192.168.1.1?”

arp broadcast
Gambar 7: ARP broadcast dari Host-A
Coba perhatikan, pesan ARP tersebut dikirimkan secara broadcast ke alamat ff:ff:ff:ff…, alias layer 2 broadcast. Ini sudah kita bahas juga di jenis-jenis traffic jaringan komputer. [Baca broadcast traffic].
Andaikata NIC eth0 host-A diatas terhubung ke switch, maka pesan broadcast tersebut kaan diteruskan juga oleh switch. [Ingat materi dasar broadcast domain].
Kembali ke proses tadi, router yang merasa bahwa alamat 192.168.1.1 adalah miliknya, dia membalas pesan ARP tersebut dengan pesan “oh 192.168.1.1 itu gue, alamat hardwarenya aabb.cc00.0100”.

ARP reply
Gambar 8: ARP reply oleh Router

6. Alamat MAC disimpan ke tabel arp (cache)

Bayangkan jika setiap kali ingin mengirim frame, tiap perangkat harus nanya-nanya dulu berapa alamat hardware alamat si IP sekian? Tentu tidak efektif.
Tidak hanya tabel routing (alamat network), alamat mac pun ada tabelnya, tapi secara default tidak permanen, ada jangka waktunya. Sering disebut dengan arp cache atau mac address table jika di switch.
Kembali ke proses, maka Host-A akan menyimpan alamat hardware ethernet0/0 Router di tabel arp nya.
gns3@Host-A:~$ arp -a
? (192.168.1.1) at aa:bb:cc:00:01:00 [ether]  on eth0
Begitu juga dengan Router, alamat hardware ether0 dari Host-A akan disimpan ke tabel arp nya.
Router#show ip arp
Protocol  Address          Age (min)  Hardware Addr   Type   Interface
Internet  192.168.1.1             -   aabb.cc00.0100  ARPA   Ethernet0/0
Internet  192.168.1.2            67   0c0c.9949.ca00  ARPA   Ethernet0/0
Internet  192.168.2.1             -   aabb.cc00.0110  ARPA   Ethernet0/1
Internet  192.168.2.2            66   0c0c.99d5.d900  ARPA   Ethernet0/1
Oh ya, sampai di step ini, router belum mengetahui alamat hardware Host-B (192.168.2.2).
Lihat bahwa disitu ada kolom “Age (min)” yaitu jangka waktu cache yang saya katakan tadi. Tanda (-) berarti alamat interface router itu sendiri, yaitu 192.168.1.1:aabb.cc00.0100 dan 192.168.2.1:aabb.cc00.0110.
Sekarang, frame tadi sudah siap untuk ditransmisikan oleh Host-A — dan sedang dalam perjalan ke ethernet0/0 router ðŸ›«ðŸ›«
Melalui media — layer 1 physical, dalam hal ini kabel UTP.
(Lama yee)

7. Pemeriksaan frame (FCS: Frame Check Sequence)

Masih panjang prosesnya. Ketika mengirim frame, dua perangkat yang berada dalam satu collision domain yang sama (eth0 host-A dan eth0/0 router) akan menjalankan CRC (cyclic redundancy check) dan hasilnya akan dicocokkan field FCS (frame check squence).
Jika FCS tidak sesuai, maka frame akan didiscard saat itu juga. Tidak ada error recovery di layer 2, hal ini cuma ada di transport layer. Jika CRC sudah sesuai, maka alamat tujuan di frame akan dibandingkan dengan:
  • Apakah mac address tersebut adalah interface router?
  • Mac address adalah alamat broadcast dari subnet dimana interface router berada di subnet tersebut juga.
  • Mac address tersebut adalah alamat multicast dimana router juga termasuk dari multicast tersebut.
Dalam hal ini, alamat tujuan frame tadi diketahui adalah alamat interface e0/0 router.
Maka sekarang router akan mengekstrak (deenkapsulasi) / membuka bungkusan frame tersebut sehingga menyisakan ip packet.

8. Pemeriksaan packet 

Sampailah kita pada tahap kinerja router yang kita bahas di awal. Disini, router memeriksa alamat tujuan dari packet (yang dibongkar dari frame tadi).
Router memeriksa keberadaan network dari alamat tujuan packet (192.168.2.2 – Host-B) tersebut di tabel routingnya.

memeriksa tabel routing
Gambar 9: Router memeriksa tabel routing
Ternyata alamat network tujuan packet (192.168.2.2) sudah terdaftar di tabel tabel routing (192.18.2.0/24) dan terhubung secara langsung ke interface ethernet0/1.
Berarti paket bisa dikirimkan.

9. (lagi) Framing packet di router

Packet pertama tadi sudah didapat dari bongkaran frame yang diterima dari Host-A, ternyata penerimanya bukan router tersebut, tapi router bisa membantu memforwardnya karena alamat tujuan packet ada di tabel routing.
Maka sama seperti proses tadi, router pun membungkus kembali packet tadi dengan frame yang berbeda.
  • Alamat sumber dan tujuan packet tetap sama, yaitu Host-A ke Host-B, tidak berubah.
  • Packet dienkapsulasi kedalam frame dengan alamat sumber (ethernet0/1 router: aabb.cc00.0110) dan alamat tujuan (eth0 Host-B: 0C:0C:99:D5:D9:00)

frame dari router ke host-b
Gambar 9: Frame dari Router ke Host-B
(Klik gambar untuk memperbesar, periksa alamat ip, dan alamat frame, bandingkan dengan topologi diatas).
Ini masih mengirim packet ya. Sehingga icmp payloadnya masih echo request, belum reply.

10. (lagi lagi) Router harus tau alamat hardware Host-B

Syarat transmisi frame tadi tidak berubah. Router pun tetap harus tahu berapa alamat hardware eth0 Host-B. Mari kita lihat:
Router#show ip arp
Protocol  Address          Age (min)  Hardware Addr   Type   Interface
Internet  192.168.1.1             -   aabb.cc00.0500  ARPA   Ethernet0/0
Internet  192.168.1.2             0   0c0c.9949.ca00  ARPA   Ethernet0/0
Internet  192.168.2.1             -   aabb.cc00.0510  ARPA   Ethernet0/1
Internet  192.168.2.2             0   0c0c.99d5.d900  ARPA   Ethernet0/1
Router#
Masih ada. Tapi kok age nya 0 menit?
Artinya decremental counting terhadap alamat hardware Host-A dan Host-B tidak berjalan. Hal ini dikarenakan ada transmisi antara Host-A dan Host-B yang sedang berjalan secara konstan.
(Saya sedang pinging Host-A dan Host-B juga sebaliknya).
Okay, karena alamat frame (0c0c.99d5.d900 Host-B) sudah terdaftar di tabel arp router, maka frame sudah bisa dikirim. Inget, isinya packet, yang berisi icmp, yang berisi echo request payload.

11. Host-B menerima frame dan memeriksanya

Sampailah frame tadi ke eth0 Host-B. Oleh host-B, dilakukan pemeriksaan frame CRC seperti sebelumnya. Jika hasilnya sesuai dengan field FCS, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan alamat frame.
Frame pun dibongkar untuk melihat isi packet dan protocol serta data yang terkandung didalamnya.

12. Packet diterima oleh Host-B

Dari pemeriksaan frame, Host-B menyadari bahwa tujuan packet adalah dirinya sendiri (192.168.2.2). Dari protocol yang ada didalam packet, ditemukan adanya pesan ICMP request.
Sampai disini, Host-B bekerja di network layer. Protocol ICMP memiliki echo request dan echo reply (ini yang harus dihandle oleh host-B).

13. Giliran Host-B, mengirim  ICMP echo reply

Oh ya, ketika sebuah sudah sampai ke penerima, ada juga pengecekan CRC seperti di frame tadi. Namun lagi lagi, kalau terdapat error, packet akan didiscard. Sebag di layer network tidak ada error recovery layaknya transport layer.
Sampai disini, Host-B membuat packet baru, dengan protocol ICMP, didalamnya payload echo reply, alamat tujuan pun diganti dengan 192.168.1.1 (host-A).
Sampai disini, Host-B membuat packet baru, dengan protocol ICMP, didalamnya payload echo reply, alamat tujuan pun diganti dengan 192.168.1.1 (host-A).

14. Membandingkan alamat tujuan paket dengan network sendiri

Sama seperti proses diawal tadi, Host-B pun tetap harus memeriksa apakah alamat (192.168.2.1), satu network dengannya, atau tidak.

membandingkan alamat tujuan paket
Gambar 10: Host-B membandingkan alamat tujuan paket
Karena alamat tujuan packet berada di remote network, maka Host-B pun harus mengirimkannya ke gateway.
Kalau Host-B tidak mengkonfigurasi gateway (atau gatewaynya salah), atau tidak ada satupun rute menuju 192.168.1.2 di tabel routingnya (sama kayak router), maka packet tidak bisa pulang.
Tidak ada echo reply, dalam hal ini Host-A akan menerima pesan ICMP time out.

15. Mencari tau alamat hardware gateway

Harus lewat gateway dulu kan, berarti alamat hardware ethernet0/1 router (gateway) juga harus diketahui oleh Host-B, agar frame bisa ditransmisikan.
gns3@Host-B:~$ arp -a
? (192.168.2.1) at aa:bb:cc:00:05:10 [ether]  on eth0
Ternyata alamat hardware ethernet0/1 router sudah ada di tabel ARP Host-B. Maka frame bisa dikirim. Jika tidak, maka Host-B akan membroadcast pesan ARP seperti diatas.

16. dst, hingga packet ICMP reply sampai ke Host-A

  • Frame dikirim dari eth0 Host-B: 0C:0C:99:D5:D9:00 ke ethernet0/1 Router: aabb.cc00.0110, berisi packet dengan source Host-A: 192.168.2.2 dan destination Host-B: 192.168.1.1
  • Router menerima packet dari Host-B di interface e0/1 nya.
  • Frame diperiksa, run CRC, dan dibongkar, lalu dilihat alamat tujuan packet tersebut. 
  • Alamat tujuan packet adalah 192.168.2.1, bukan router.
  • Sekarang tugas router meneruskan packet, dilakukan pemeriksaan tabel routing, dan network 192.168.2.1 terhubung langsung ke interface ethernet0/0 (192.168.1.0).
  • Packet (tidak diubah), pun dibungkus kedalam frame. Alamat sumber frame yaitu ethernet0/0 router, dan alamat tujuannya adalah eth0 (192.168.1.2 Host-A).
  • Selama alamat hardware dari 192.168.1.2 Host-A masih ada di tabel ARP router, maka frame bisa dikirim. Jika tidak, router juga akan mengirim pesan ARP.
  • Frame diterima oleh Host-A, run CRC. Lalu dibongkar, frame dibuang, menyisakan ip packet.
  • IP packet diperiksa, diketahui bahwa Host-A adalah penerima packet tersebut. Maka Host-A menerima packet icmp reply.

icmp echo reply
Gambar 11: Host-A menerima ICMP echo reply
Selesai, panjang juga kan..

Simpulan

Demikian materi proses ip routing kali ini. Hal ini sangat penting untuk kamu pahami sebagai fundamental routing switching (iya, switching juga, yang akan kita bahas nanti).
  • Alamat sumber dan tujuan packet tidak akan berubah (kecuali ada address translation), hingga packet tersebut sampai ke tujuan.
  • Begitu juga dengan protocol yang ada di dalam (IP) packet tersebut.
  • Sedangkan alamat frame terus berubah sesuai collision domainnya (dua node di sebuah link). 
  • Packet icmp [echo request] butuh icmp [echo reply] maka packet tersebut tidak cukup jika hanya sampai tujuan, harus bisa kembali juga.
  • IP routing terjadi di network layer, pengirimannya berdasarkan tabel routing (di router), termasuk juga gateway (di end device). 
  • Framing terjadi di data link layer, pengirimannya berdasarkan tabel mac address atau tabel ARP.

# Evaluasi Pemahaman IP Routing

Lah.. gimana ini. Tadi kan sudah kesimpulan.
Sesuai janji saya di awal materi, kita akan menjawab beberapa soal untuk mengevaluasi pemahaman ip routing.
Soal-soal berikut tidak sulit, tapi kamu harus benar-benar bisa menjawabnya. Sebab sebagai dasar ip routing adalah satu pondasi penting pemahaman jaringan komputer.
Let’s begin.

Soal IP routing #1

Router R1 menerima packet dengan source address 172.16.12.99 dan destination address 192.168.47.108. Apa yang dilakukan router R1 terhadap paket tersebut?

soal ip routing 1
Soal 1 ip routing
Jika kamu menjawab “paket diterima oleh router R1 (berasal dari) interface Serial0/0, namun karena tidak ada satupun rute menuju network 192.168.47.0/24 (dengan asumsi clasfull), maka paket dibuang/didiscard”.
Maka jawaban kamu sempurna!
Oh ya, kalau dari tabel routing diatas terdapat [Codes *] alias candidate default, alias default gateway (seperti di end device), maka paket tadi akan dikirimkan kemari.
Terlepas paket tersebut (pada akhirnya) sampai atau tidak ke tujuannya, yang terpenting adalah router sudah memforwardnya sesuai tabel routingnya.

Soal IP routing #2

Sekarang, ada 2 buah LAN network, terhubung oleh satu buah link WAN network dengan serial link. Di LAN R2 terdapat WebServer dan ingin diakses oleh Host2 yang berada di LAN R1.

soal ip routing 2
Soal 2 ip routing
Dari gambar sudah terlihat jelas bahwa:
  • Frame pertama: mac address asal nya adalah e0 Host2, mac address tujuannya adalah e0/1 R1.
  • Alamat tujuan paket adalah alamat WebServer dan alamat asal paket adalah Host2.
  • Nomor port di header segment (inget layer transport, protocol data unitnya adalah segment), adalah TCP port 80 alias HTTP.

Soal IP routing #3

Sekarang kita kembangkan lagi topologinya. Ada server web dan server DNS terhubung di LAN R2. Juga di LAN sudah terdapat masing-masing sebuah switch. Bagaimana prosesnya jika Host1 ingin mengakses web server (ngonfig.net)?

ip routing test 3
Soal 3 ip routing
Kalau kamu mengira Host1 akan langsung memframing IP packet yang berisi protocol HTTP/HTTPS (TCP port 80 atau 443), maka jawabannya tersebut salah.
  • Host1 harus tahu dulu ip dari ngonfig.net. Karena tidak ada koneksi host-to-host dengan nama domain.
  • Maka host1 terlebih dahulu membuat packet yang mengandung segment dengan protocol UDP port 53 di headernya.
  • DNS server akan menjawab paket tersebut dan memberitahu IP dari server ngonfig.net
  • Host1 mengirim paket HTTP (TCP port 80) request (ada 3 way handshake dulu, ya kan), karena HTTP menggunakan TCP.